Oleh: Ustadz Dwi Triono
Dakwah secara umum adalah menyeru atau mengajak kepada manusia untuk menyembah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Di sana ada sebuah ajakan dan juga objeknya yakni seluruh manusia. Tidak hanya kepada umat muslim, tapi semua manusia adalah objek dakwah. Bentuk ajakannya pun tidak harus bermakna langsung mengarah kepada syahadat, akan tetapi bagaimana mendakwahkan islam itu, bagaimana kita bisa menunjukkan keluhuran islam, kemuliaan islam, keagungan islam, agar kemudian tidak hanya orang itu tertarik dengan islam karena diajak, tapi karena melihat apa yang bisa orang lihat tentang islam.
Banyak sekali dalam sejarah sejak jaman sahabat hingga saat ini, orang masuk islam bukan karena diajak, akan tetapi mereka melihat perilaku hidup sehari-hari kaum muslimin. Akhlak mereka, sifat-sifat positif yang ada pada diri orang yang beriman, kejujurannya, komitmennya, keramahannya, kedermawanannya, dan kebaikan lainnya. Sehingga hal ini sudah termasuk menjadi bagian dakwah itu sendiri.
Dakwah memiliki hukum wajib, namun para ulama membaginya menjadi dua, wajib kifayah dan wajib ‘ain. Wajib kifayah disini maksudnya ketika dakwah sudah tertangani dengan baik. Setiap lini sudah terisi dan terjaga. Namun di Indonesia saat ini, menurut saya dakwah sudah menjadi wajib ‘ain. Tanpa harus membayangkan nonmuslim, kita mengurus umat muslimnya saja itu tidak akan teratasi.
Jika artian dakwah itu hanya ceramah di mimbar, tabligh akbar dan kajian-kajian, mungkin itu sudah cukup. Namun untuk kemudian bisa mendampingi mereka sampai sholih dan sholihah, terpantau dan terkontrol, maka itu akan butuh sumber daya da’I yang cukup banyak. Saya pernah membina kampung muallaf di Bali dan permasalahannya sama, kurangnya pembimbing. Kasihan ketika mereka jalan sendiri dan itu bisa jadi boomerang sendiri bagi kita. Mereka sudah memiliki niat untuk masuk islam, tapi dari kita masih belum bisa membantu perjuangan mereka dalam berislam secara penuh.
Dalam dakwah, seorang da’i harus membekali diri dengan ilmu. Karena salah satu syarat untuk berdakwah adalah harus memiliki kesiapan ilmu yang cukup. “Barangsiapa mempersiapkan diri untuk berperang, maka ia sudah termasuk ikut berperang.” Jadi ketika kita mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu untuk dakwah, maka itu sudah menjadi bagian dari dakwah.
Dakwah sangat penting karena selain itu merupakan perintah yang jelas dalam Al Quran, kita juga bisa menjelaskannya secara logika kenapa itu diwajibkan. Dalam bermaksiat atau berbuat dosa, seseorang tanpa disuruhpun akan melakukannya, bahkan mereka mencari kesempatan untuk bisa mengerjakannya. Sedangkan amar ma’ruf, disuruh pun masih saja banyak alasan bahkan semakin menjauh. Kemaksiatan itu berjalan 24 jam, apalagi sudah ada smartphone yang potensi keburukannya juga cukup tinggi. Jika dakwah hanya disunnahkan, ya bisa bubar umat kita. Hukumnya sudah diwajibkan saja, kita masih kewalahan mengatasi berbagai kebatilan, apalagi disunnahkan.
Mengingat pentingnya dakwah, maka sejak dini para orangtua harus bisa mulai menanamkan pada jiwa anak-anak mereka tentang agama yang mereka yakini. Bahwa setiap dari kita adalah da’i, penyeru pada kebenaran. Semua dimulai dari orangtua dengan menjadi teladan atau contoh yang nyata bagi mereka. Sang anak harus sering melihat orangtuanya juga sedang sibuk dalam dakwah. Penuh kesungguhan, penuh pengorbanan, perhatian pada umat sangat besar.
Jika memungkinkan ajak mereka dan libatkan mereka dalam kegiatan dakwah yang orangtua lakukan, apapun bentuknya. Jika kemampuan orangtua sebagai pengajar Al quran, maka ajak mereka bersama untuk mengajar Al Quran, entah di masjid atau di rumah, agar mereka mengetahui bahwa ternyata dakwah itu sangat dibutuhkan. Tidak harus sama dengan orangtuanya, tapi sesuaikan dengan passion anak, atau bisa dengan tokoh islam yang dikagumi. Sehingga ia akan sadar bahwa ia memang dibutuhkan dalam dakwah.
Dakwah juga memiliki tema-tema, ada yang spesifik dan ada yang universal. Bagi anak-anak dan remaja, mereka cenderung lebih menyukai tema universal. Dan dakwah yang bertema universal adalah tentang kepedulian. Kepedulian itu adalah tema yang paling bisa diterima oleh semua golongan. Tema yang terasa tanpa beban karena akan berat bagi anak atau remaja jika langsung diberikan tema spesifik seperti kajian, daurah dan sejenisnya.
Ketika mereka dilibatkan dalam kepedulian sosial, mereka akan merasa senang karena kegiatan ini tujuannya membahagiakan orang lain. Disinilah mereka akan terasah nuraninya, tersentuh hatinya, spiritualnya. Peduli kepada sesama juga bisa memancing mereka untuk banyak menambah ilmu, mengupgrade diri dan semakin bersemangat. Karena dia akan paham bahwa kepeduliaan ini butuh tenaga, yang artinya harus melibatkan banyak orang, butuh ilmu pengetahuan dan pengalaman, sehingga secara tidak sadar hal ini akan membuatnya mempersiapkan diri untuk terjun ke medan dakwah yang lebih luas.
Dakwah itu juga sebenarnya intinya adalah peduli kepada sesama. Jadi dakwah juga berfungsi agar kita tidak menjadi pribadi yang individualis. Kita mengajak pada kebaikan, itu artinya kita peduli kepada seseorang yang kita ajak agar tidak lagi bergelimang dosa.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Bermanfaat bagi orang lain itu ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Seperti bisa melepaskan belenggu. Orang yang tidak pernah berinfak, dia tidak akan mampu membayangkan kenikmatan orang yang berinfak. Ketika bisa berinfak itulah, ia baru bisa melepaskan belenggu atau kekuatan yang selama ini membuatnya enggan untuk melakukannya. Hal ini tentu sangat baik bagi pertumbuhan anak-anak.
Tema kepedulian pun tidak akan ada habisnya. Saya pernah melihat segerombolan anak muda di tengah jalan pada jam 2 malam, saya amati ternyata mereka menandai beberapa lubang di jalan dengan menyemprotnya menggunakan cat kaleng. Ini merupakan salah satu bentuk dakwah sederhana yang bisa dilakukan dan lagi-lagi temanya adalah kepedulian. Mereka peduli dengan keselamatan para pengendara yang nantinya bisa celaka jika melewati lubang itu.
Jika kepedulian ini sudah tertanam kuat dalam diri, jiwa dakwahnya Insyaa Allah akan muncul selama hidupnya. Dia akan selalu merasa terpanggil ketika ia mendapati ada sesuatu yang memang perlu mendapatkan perhatian atau pertolongan. Penanaman jiwa dakwah melalui kepedulian adalah metode termudah yang bisa dilakukan semua orang, meskipun tanpa ayat dan hadits, semua golongan pasti menerimanya tanpa khawatir aliran apa dan golongan yang mana.
Sebagai seorang muslim, siapapun kita, apapun latar belakang kita, apapun profesi kita, sudah semestinya kita terlibat dalam dakwah. Keluarga kita, teman kita, rekan kerja, masyarakat, semua bisa kita ajak untuk terlibat. Dakwah itu peduli dan kepedulian bisa dibiasakan sejak dini kepada anak-anak kita. Ketika kita enggan untuk peduli, maka bayangkan ketika Allah uji kita dengan kesusahan dan tidak ada yang peduli dengan kita, bagaimana rasanya? Jangan sampai kita menunggu hal itu terjadi dulu pada kita baru kita bergerak.
Potensi atau passion setiap anak berbeda-beda. Mana yang mereka merasa enjoy, mau peduli dalam bidang apa ya itu yang ditekuni. Peduli anak yatim, peduli anak jalanan, peduli jalan rusak, peduli kekeringan, dan sebagainya. Kepedulian tidak akan ada habisnya karena dalam segala bidang kita butuh kepedulian. Sehingga kita bisa membangun masyarakat muslim yang peduli. Jika hal ini diketahui umat non muslim, mereka pun akan ikut senang. Ketika mendengar umat muslim, mereka akan mengatakan, oh ini tetangga saya yang peduli, ini teman saya yang peduli, ini pimpinan saya yang peduli. Akhirnya kehadiran kita pun mampu memberikan rasa tenang bagi mereka, kita menjadi seseorang yang diharapkan kehadirannya.
YDSF Peduli



