fbpx

Pejuang Pendidikan Pahlawan Bangsa

Written by ydsfpeduli

On November 10, 2021

“Saya perlu mempelajari program-program pendidikan yang ada di YDSF Pak, kalau memungkinkan sejak awal berdirinya,” ujar staf baru bidang Pendidikan dan Yatim yang sengaja meminta waktu diskusi kepada manajernya setelah sesi tilawah dan briefing pagi dihari kedua ia bergabung di YDSF Malang.

Manajer program dihadapannya hanya tersenyum sekilas, tangan kanannya mengangkat dan menempelkan cangkir berkelir coklat ke bibir….sluurrrp, “hmm pagi ini aku rasa kopi nikmat sekali” batinnya.

“Ada banyak program yang sudah dilakukan baik karitas maupun pemberdayaan, semua merujuk pada sebuah konsep besar tentang keberdayaan pendidikan, sejauh jangkauan kita tentu saja. Mulai Beasiswa Rutin dan insidental, Pembinaan karakter siswa binaan, Back To School berupa paket perlengkapan sekolah, Pembagian Buku Pelajaran…”. 

“Hanya itu saja Pak?,” penjelasan manajer terhenti saat staf baru bertanya tiba-tiba.

“Masih banyak. Makanya kalau orang sedang ngomong didengarkan, sampean yang nanya baru dijawab sedikit sudah dipotong”.

“Siap Pak. Maaf”.

“Siap apa?” masih datar suaranya, tak ada nada gusar dan marah sedikitpun.

“Siap dihukum”. Staf baru sedikit menunduk dengan tatapan lurus ke jempol kakinya, dan dia melewatkan seulas senyum lawan bicaranya.

Sosok berjenggot panjang melanjutkan, “Itu tadi untuk murid sebagai salah satu komponen, untuk para pendidik kita ada berbagai program pelatihan guru tentang kurikukum, manajemen kelas, robotik hingga Akademi Kepala Sekolah. Program khusus pandemi kemarin kita membuat program tripod untuk guru, gadget untuk pembelajaran daring. Beberapa sekolah pelosok juga kita sediakan komputer untuk ujian agar muridnya tak perlu numpang ke sekolah lain di pusat kecamatan….” Hening sejenak. “Masih melek mas?”

“Siap Pak”.

“Siap apa?”

“Siap begadang”

Sambil menyeruput kopi lirikan tajam manajer menyapu sosok pemuda didepannya, mencoba menilai kejiwaan staf barunya. Aman. Sementara yang dipandang hanya menunduk seraya menelan ludah…cleguk, entah grogi atau terprovokasi kopi manajernya. 

“Program pendidikan di YDSF kita rancang secara integral mas, hanya saja kita belum masuk ke advokasi kebijakan, biarlah teman-teman kita yang kompeten mengambil peran itu”. “Siap mendo’akan Pak” si staf buru-buru mengarahkan kembali tatapannya ke jempol kaki sebelum tolehan manajer mengarah lurus ke wajahnya, semburat gemas mulai nampak disana.

“Itulah mengapa kita buat School Improvement Program, sebuah program berbasis sekolah yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dengan melibatkan seluruh stake holder mulai dari murid, guru, kepala sekolah, sampai tenaga administrasi, satpam dan tukang kebun sekalipun. Kita ada 6 sekolah mitra yang menjalankan program ini, 5 di Kabupaten dan 1 di Kota Malang. Kita dampingi dari kondisi ala kadarnya sampai ada kadarnya, dari yang tidak punya RPP, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, sampai sekarang terakreditasi A. Dari awalnya hanya kepala sekolah one man show kini memiliki manajemen solid dan rapi. Budaya islami juga melekat kuat pada mereka, berdo’a, berwudhu sesuai tuntunan Nabi, sholat dhuha telah menjadi pemandangan sehari-hari sebelum pandemi”, jelas si manajer panjang lebar.

“11 tahun lalu YDSF sempat menyalurkan amanah donatur berupa apresiasi kepada guru-guru honorer di pelosok, terutama yang mengajar di sekolah-sekolah mitra, tidak banyak, sekitar 70 orang kita pilih yang belum sertifikasi. Kita pelajari data mereka secara detail, berapa honor bulanan, berapa pendapatan diluar mengajar, berapa orang tanggungannya, berapa lama mengabdikan diri mencerdaskan anak negeri. Semua penerima besyukur, banyak diantara mereka menitikkan air mata…,” lanjutnya.

Pak manajer memejamkan mata, memori 11 tahun lalu menyeruak tiba-tiba. “Alhamdulillah yaa Allah, terimakasih panjenengan masih peduli pada kami, selama ini kami merasa sendiri…” kalimatnya terhenti karena ia menangkupkan tangannya ke mulut dan hidung, sang kepala sekolah yang hadir mendampingi menyambung, “Siswa di tempat kami mayoritas dari keluarga miskin Ustadz, jadi kalaupun mereka menunggak SPP kita tidak bisa memaksa, yang penting mereka bisa terus sekolah”. Guru wanita yang tak sempat menyelesaikan kalimatnya hanya mengangguk membenarkan. Guru dari sekolah lain menimpali “Alhamdulillah baru kali ini kita dapat bonus seperti ini ustadz, semoga bisa rutin tiap tahun, semoga YDSF dan para donaturnya semakin sukses dan berkah”. “Aaamiiin…” seluruh yang hadir menyahut serempak.

Pak manajer membuka mata, arah pandangannya ke langit-langit ruangan, mencoba menyinambungkan kenangan dengan kondisi saat ini “Nah, mumpung Nopember ini kita memperingati Hari Pahlawan dan Hari Guru baiknya kita bikin agenda program untuk mereka Mas, para guru yang tetap mengabdi berbakti untuk negeri tanpa mengejar materi, karena mereka adalah pahlawan yang berjuang untuk ibu pertiwi…”.

Hening, tak ada jawaban. Dialihkan pandangan menuju pemuda dihadapannya, “Mas Sandi?” 

“Siap pak!.”

“Siap apa?”

“Siap Gas Pol..!” sahut Sandi penuh semangat.

YDSF Peduli

You May Also Like…

Hubungi Kami
Ada yang Bisa Dibantu?