Hasil ekskavasi yang dilakukan di kawasan Jazirah Arab baru-baru ini diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah Inggris, Nature. Disebutkan bahwa sebagai kawasan yang menghubungkan antara Eurasia dan Afrika, Jazirah Arab dulu pernah dihuni oleh orang-orang prasejarah.
Sebuah tim arkeologi yang tak hanya terdiri dari arkeolog Jerman, Arab Saudi, Australia, dan Inggris mempelajari citra satelit dan menganalisis sampel sedimen sebuah kawasan gurun pasir gersang di sisi barat laut Kota Ha’il, Arab Saudi. Jubbah, demikian kawasan tersebut dikenal hari ini, pada 400.000 tahun yang lalu merupakan sebuah danau, atau oasis.
Kawasan yang gersang pada sisi utara Arab Saudi masa kini adalah sebuah danau kuno yang tak pernah kering pada ratusan ribu tahun silam. Dengan iklim yang jauh lebih lembab, berbagai flora dan rerumputan menghijaukan Oasis Jubbah sepanjang tahun.
Lantaran iklimnya yang sangat ramah huni, hewan dan manusia bermigrasi dari sisi timur laut Afrika menuju oasis Jubbah. Petroglif yang ditemukan menggambarkan kegiatan, pakaian, dan gaya rambut orang-orang yang dulu pernah tinggal di kawasan tersebut. Pahatan-pahatan lain melukiskan bagaimana mereka mengatur strategi dan menggunakan senjata, seperti panah, tombak, dan semacam bumerang, untuk berburu. Piktograf serupa juga dapat dijumpai di berbagai negara di Afrika Utara seperti Mesir, Libia, dan Aljazair.
Selain ternak dan hewan buruan, Jubbah ketika masih berupa kawasan oasis juga dihuni oleh kuda nil, burung unta, dan antelop. Dapat dipastikan ketersediaan air yang melimpah pada masa itu karena habitat kuda nil tak pernah jauh dari kolam air dengan kedalaman beberapa meter.
Jubbah, ketika masih berupa oasis, selama kurun waktu yang cukup lama dihuni oleh penggembala yang berpindah-pindah tempat tinggal. Kawasan yang dulunya memiliki curah hujan tinggi ini lama-kelamaan ditinggalkan akibat perubahan iklim. Hingga selama satu dekade terakhir, kehidupan prasejarah di Jazirah Arab mulai diteliti, menyusul penelitian arkeologi di wilayah Syam yang telah berjalan selama lebih dari satu abad.
Sumber:
TRTWORLD
Arabian Rock Art Heritage



