Sambil mengusap lembut perut tujuh bulannya dan mengusap peluh akibat kehujanan, tersirat sebuah doa penuh harap seorang Ibu, “yang penting anak bisa makan dan harus bisa sekolah. Biar hidupnya lebih baik dari kita.”
Sudah lama pasangan suami istri (pasutri) tuna netra, Sandhi dan Cuplik, memutuskan untuk berhenti menjual jasa ahli pijat. Terlebih setelah Cuplik mengandung anak pertamanya yang bernama Dimas. “Lebih enak jualan, karena kalau pijat pasiennya ada yang nakal. Apalagi kalau bukan (bekerja) di panti pijat besar, susah cari pasien dan harus rebutan,” ungkap Cuplik.
Sejak Dimas masih dalam kandungan, Pasangan difabel ini sudah sempat bekerja dengan berjualan keliling. Barang yang dijajakan adalah tahu, pepes, dan beberapa masakan lainnya. Namun setelah Dimas lahir, Cuplik dan Sandhi berusaha untuk membeli gerobak. Agar mereka bisa menjajakan barang dagangan yang lebih banyak. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berjualan kerupuk dan beberapa buah-buahan. “Kalau lagi hujan, yang paling laris itu jualan kerupuk. Soalnya enak kan kalau buat camilan,” ujar Cuplik.
Pasutri ini merasa bersyukur karena ada pengepul kerupuk yang berbaik hati mengantarkan barang dagangan langsung ke rumah mereka. Setiap kali datang, sang pengepul akan membawa 25-30 bungkus kerupuk dengan harga Rp4.000/bungkus. Yang nantinya akan dijual Rp5.000/bungkus. Sedangkan untuk buah-buahan, mereka dapat dari pasar dengan harga Rp9.000/kilo. Yang nantinya akan dijual Rp12.000/kilo. “Tapi kalau dijual di kampung-kampung jadi Rp10.000/kilo,” ungkap Sandhi, suaminya.
Sehari-hari pasutri tuna netra penjual kerupuk ini memang sudah cukup “dikenal” di daerah Mertojoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Mereka terpaksa untuk berjualan keliling karena tidak sedikit sesama pedagang kaki lima yang kerap “memanfaatkan” kekurangan fisik mereka. “Di spot jualan yang biasa, kadang ada tukang siomay atau pedagang lain yang suruh saya pindah. Padahal sebelum dia datang, saya sudah jualan di sini. Tapi saya tidak mau cari ribut, akhirnya saya pindah,” cerita Cuplik.
Mereka bukan tak menghiraukan bahaya berjualan keliling dengan keadaan mereka. Akan tetapi ini adalah sebuah pilihan berat yang harus mereka ambil. Ramainya lalu lalang kendaraan bermotor di jalan raya dan sulitnya mencari tempat berteduh kala hujan adalah resiko yang kerap kali mereka rasakan, namun itu semua tetap dijalani dengan sabar dan penuh perjuangan oleh pasutri ini. “Saya dan suami cuma ingin anak bisa sekolah. Gapapa dagang keliling yang penting halal,” tukasnya sendu.
Sandhi sering membicarakan impiannya kepada istrinya untuk bisa menyewa tempat berjualan. Ia bahkan sudah bertanya kepada pemilik tempat yang lokasinya tak jauh dari rumahnya di daerah Jalan Mayjen Haryono. “Harga sewanya Rp15 juta setahun. Di pasar ada lebih murah Rp10 juta setahun. Tapi di pasar cenderung sepi kalau tidak punya langganan,” kata Sandhi.
Namun apa daya, mengumpulkan uang sebanyak itu dari keuntungan hasil jualan yang hanya seribu rupiah per bungkus sering membuat Sandhi urung dan pesimis karena uang seadanya yang mereka dapatkan harus mereka gunakan dulu ke hal lain yang lebih penting. Mulai dari, Sekolah Dimas hingga kebutuhan makan sehari-hari.
Sungguh bahaya selalu mengintai Cuplik dan Sandhi setiap kali mereka harus turun ke jalanan. YDSF pun tengah berusaha bantu wujudkan mimpinya untuk bisa berjualan di tempat yang layak atau sebuah warung yang teduh bersama platform kitabisa.com. Selain lebih nyaman, berjualan di tempat juga pastinya lebih aman. Sehingga nanti, biaya sekolah Dimas pun akan terpenuhi.
YDSF Peduli




